Emy Afriani

Guru TKIT Anak Sholeh Mataram NTB...

Selengkapnya

Waktu Berpacu Menuju Allah

Waktu terus bergulir. Daun usia kita berguguran satu demi satu. Waktu yang kita miliki tiap hari selalu berbeda. Kemarin, sekarang, besok dan yang akan datang.

Waktu berpacu dalam kehidupan kita menuju Allah Sang Khalik. Saat waktu tiba, maka kita mengenalnya de dengan kematian.

Kematian itu begitu dekat. Berjalan seirama degan nafas kehidupan. Namun, betapa sering kita lupa bahwa kematian akan datang menjemput. Entah kapan,dimana, saat kita bagaimana dan dengan cara apa takdir kematian itu akan menyapa kita.

Diri kita sering bertingkah seakan-akan kematian tak akan pernah datang. Tingkah laku, tutur kata bahkan akhlak yang kita tunjukkan seolah-olah kita makhluk yang bisa hidup abadi di dunia. Kita sangat sedikit menyiapkan waktu dan bekal untuk menerima takdir kedatangannya yg tak pernah ada jadwal pastinya.

Kematian waktunya begitu misteri.

Sebagai perantau di bumi-Nya seharusnya kita mencukupi bekal kebutuhan kita. Melaksanakan yang dicintai dan ridhoi-Nya. Melakukan perjalan dengan petunjuk Rasul-Nya. Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Saat kematian tiba, semua sekeliling akan bercucuran air mata. Sedih. Kehilangan. Sangat berbeda dengan saat kita lahir. Semua menunggu-nunggu. Cemas tapi bahagia. Sanak keluarga tersenyum bahkan sampai terbahak-bahak mendengar suara tangis kita yang memekak telinga.

Jika saat itu tiba kita berharap, akan menjadi moment paling bahagia dalam hidup kita di dunia. Moment yang begitu dirindukan. Seperti para sahabat Nabi Muhammad saw. Betapa tdk? Kematian hanya sebahai jalan menuju kehidupan abadi. Saat itu kita akan kembali pada pemilik kita. Zat yang begitu Maha segala-galanya. Bertemu Sang Khalik.

Sebuah kisah menggetarkan jiwa. Kisah pemuda yang menepati syahadatnya. Pemuda yang memilih keimanan daripada kemewahan dunia yang fana. Pemuda yang kepergiannya menggetarkan penduduk langit dan bumi. Dialah seorang pemuda yang bernama Mus'ab bin Umair ra.

Mus'ab lahir dari keluarga terhormat dan kaya raya dari Suku Quraisy. Wajahnya tampan. Penampilannya parlente. Otaknya cemerlang. Ide-idenya berilian. Kecerdasannya menjadikan dirinya selalu menjadi pemimpin di setiap perkumpulan. Wanita-wanitapun banyak yang bermimpi menjadi pendamping hidupnya.

Kedatangan cahaya Islam yang dibawa Rasulullah saw telah merasuki relung sanubarinya. Keimanan menancap kuat. Kehidupan dunia yang glamor rela ia tinggalkan. Mus'ab memilih hidup sederhana dan terhormat dalam Islam.

Kecerdasan Mus'ab mengantarkan dirinya menjadi pemuda kepercayaan Rasulullah saw. Usia 17 tahun, Mus'ab dipercaya Rasulullah saw menjadi Duta Islam pertama. Menyeru manusia ke jalan Islam yang rahmatal lil 'alamiin.

Kepercayaan Rasulullah saw tak disia-siakan. Mus'ab bin Umair mampu memikat hati para pemuka Kabilah di Yasrib yang sekarang kita kenal Madinah.

Akhir kehidupan Mus'ab, memberikan duka mendalam dalam hati Rasulullah saw. Gunung Uhud, telah menjadi saksi akan keimanan, keteguhan, serta ketaatan. Kerinduan Mus'ab bertemu dengan Sang Pencipta tercapai. Puluhan tebasan pedang dan tombak di sekujur tubuhnya mengantarkan Mus'ab bin Umair menjemput syahid.

Di dekat jenazah Mus'ab, Rasulullah saw menitikkan air mata. " Wahai Mus'ab, dulu di masa jahiliyah engkau pemuda yang di kelilingi oleh kenikmatan dunia. Pakaianmu adalah pakaian termahal. Namun, ketika syahid menjemputmu kain kapanmu tak cukup menutup tubuhmu. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Aku menjadi saksi akan keteguhan dan keimananmu".

Mus'ab bin Umair ra memenuhi janjinya sebagai seorang Muslim.

Semoga bulan Ramadhan ini, menjadi waktu kita untuk muhasabah diri. Mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang hakiki yakni kehidupan akhirat. Setiap detik menjadi ladang pahala. Setiap hembusan nafas adalah zikir menyebut asma-Nya. Setiap untaian ai mata adalah taubat pada-Nya. Setiap waktu berjalan menuju pada-Nya.

Mataram, 13 Ramadhan 1439 H

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali