Emy Afriani

Guru TKIT Anak Sholeh Mataram NTB...

Selengkapnya

Karena Allah Ar-Rahiim Cinta

Mengapa bisa begini ? Mengapa sakit ini tidak diberikan pada yang lain? Kenapa saya? Aaah, aku bosan. Aku tidak sanggup lagi. Aku capek. Lelah.

Ungkapan ini sering keluar dari lisan kita. Tatkala keinginan kita tak sesuai dengan ekspektasi awal yang kita harapkan. Ungkapan-ungkapan keluhanpun berhamburan. Salah satu hal yang sering kita keluhkan adalah ketika Allah Azza Wa Jalla menguji dengan rasa sakit.

Adakah dari kita yang tidak pernah sakit? Saya pikir hampir semua manusia pernah merasakan yang namanya sakit. Tidak terkecuali seorang nabi. Dalam shirah nabawiyah, kita mengenal Nabi Ayyub as.

Nabi Ayyub as, Allah uji dengan penyakit kulit yang sangat dahsyat. Sekujur tubuh beliau melepuh. Semakin diobati, kulit Nabi Ayyub as semakin parah. Aroma bau busuk pun keluar. Belatung-belatung kecil melompat-lompat girang dari kulit Nabi Ayyub as yang sakit.

Di tengah rasa sakit yang mendera, anak tercinta beliau dipanggil ke hadapan Allah swt. Istri beliau yang senantiasa menemanipun tak sanggup untuk tinggal bersama lagi. Harta kekayaan yang dimiliki semuanya musnah. Tinggallah Nabi Ayyub as seorang diri di gubuknya bergelut dengan rasa sakit yang diderita.

Mengeluhkah Nabi Ayyub as? Sebuah pelajaran berharga bagi kita. Tak sedikit pun Nabi Ayyub as mengeluh. Justru beliau mengucapkan syukur.

“ Allah Sang Khaliq, telah menganugerahkan kesehatan lebih lama dibandingkan sakitku. Harta yang aku miliki, hanyalah titipan-Nya. Anak dan Istri pun itu hanya tititpan dari-Nya. Jika Allah mau mengambil kapan pun itu adalah hak-Nya. Sebagai hamba yang dititipkan sewajarnya kita berlaku ikhlas menerimanya.” Ungkapan yang luar biasa.

Tapi toh, beliaukan seorang nabi. Wajar jika tingkat kesabarannya tinggi. Ikhlasnya juga gak bisa ditandingi. Kalimat ini pun kembali keluar dari lisan kita untuk mencari pembenaran atas keluhan yang kita ungkapkan.

Sebagai Muslim, Nabi Muhammad saw memberikan hiburan yang membahagiakan dan menenangkan jiwa. Sesungguhnya setiap rasa sakit yang diderita setiap Bani Adam adalah nikmat dari Allah swt. Rasa sakit yang diderita salah satu bentuk cinta Allah kepada mereka. Allah swt menginginkan, di tengah rasa sakit yang dirasakan sebagai momen terindah untuk berkhalwat. Menjalin kedekatan. Berdua dengan Sang Pencipta. Memadu rindu untuk bermunajat kepada-Nya. Allah swt juga menginginkan hamba-nya yang sakit bersegera untuk berbenah. Jika tubuh yang diberikan selama ini diporsir untuk bekerja, maka Dia mengingkan agar tubuh yang Dia titipkan diistirahatkan sejenak untuk memikul amanah lain yang lebih besar pahalnya. Bahkan Allah swt menjadikan setiap rasa sakit yang kita derita sebagai penggugur kesalahan yang pernah kita lakukan.

Masya Allah, betapa besar cinta Allah Yang Maha Ghaffar kepada kita. Saat kita lupa, Dia berusaha mengingatkan agar kembali pada-Nya. Bukan kembali pada sesuatu yang tidak memberikan manfaat sedikitpun. Atau berlari menjauh dari diri-Nya.

Allah Al Aziiz sangat memahami kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian tentunya sesuai kelas kualitas pribadi kita.

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah:286)

Kesadaran ini yang sering hilang dari diri kita. Mari kita belajar dari keikhlasan dan kesabaran Nabi Ayyub as. Meskipun susah, Allah akan melihat usaha yang kita lakukan. Semoga saudaraku yang Allah swt uji dengan sakit, senantiasa ikhlas. Allah swt memberikan kemulian dari sakitnya.

Momentum Ramadhan sungguh sangat tepat bagi kita untuk kembali merajut kedekatan dengan Sang Khaliq. Menebar kebaikan dengan sesama. Merangkai doa terbaik untuk diri dan saudara. Menikmati hidangan cinta dari Allah Yang Maha Rahman dalam bulan kemulian.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Subhanallah...tulisan yang sangat mengingatkan indahnya "berkhalwat" dengan Ar rahmaan ar rahiim. Jazakillah khoir....bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Semoga mencapai mardhatillah. Barakallah.

25 May
Balas

Aamiin. Semoga bisa belajar dari Bunda yg sdh banyak menghasilkan karya

25 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali